Memberdayakan Ekonomi (ke)Rakyat(an)

Berbagi Pemikiran & Ide Add comments

Bingung? Kenapa aku nulis kata (ke)Rakyat(an), bukan Rakyat, atau Kerakyatan. Gini… kita saat ini sedang ada di posisi kebingungan istilah. Banyak pejabat, politisi, atau siapa pun yang gembar-gembor tentang pemberdayaan ekonomi KERAKYATAN. Sebelum ke pokok permasalahan, mungkin kalimat ’memberdayakan ekonomi kerakyatan’ direvisi jadi ’memberdayakan ekonomi rakyat’.  Why? Ekonomi kerakyatan adalah sistem. Apakah kita memberdayakan sistem? Nggak kan…. Yang kita berdayakan adalah orangnya (seperti yang aku kutip dari tulisan Prof. Dr. Mubyarto — Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM di Jurnal Ekonomi Rakyat).
So… lebih lanjut kita bicara tentang EKONOMI RAKYAT ya… :D

Kok ujug-ujug aku ngomongin ekonomi rakyat? Jujurly, aku adalah salah satu kaum hedonis yang menikmati kehidupan metropolitan, termasuk gaya hidupnya. Males ke pasar tradisional karena becek. Milih beli baju jadi di mall daripada ke tukang jahit. Hobi ngopi di kafe daripada ke warung kopi giras. Kenapa? Karena enak. Pelayanannya jelas, nggak gerah, nggak becek. Sampai akhirnya aku sampai pada titik jenuh, bingung mau ngapain, sampai akhirnya –mungkin pas tidur kepalaku kejedot tembok- aku yang lain dalam diriku berpikir, ”Mau sampai kapan kamu menjalani kehidupan konsumtifmu? Mau terus jadi konsumen? Mau terus diperbudak oleh budaya kapitalisme?” Bingung.

Bisa jadi pikiran2 itu muncul karena aku sudah sampai pada titik jenuh. Hidup kok gitu2 aja, seperti nggak ada tantangan baru. Langsung saja aku berhenti melangkah, tarik nafas panjang, bergeser beberapa senti dari posisi berpijak sekarang dan mencoba menemukan sudut pandang baru. Hasil perenunganku adalah, ”Kenapa nggak nyoba untuk meninggalkan sedikit saja kenyamanan itu dan sisanya biarkan otak dan rasa yang mengolah.”

Keputusan pertama adalah mengasah entrepreunership yang sebenarnya ada dalam jiwa setiap orang, tinggal bagaimana kita melihat peluang. Tantangan berikutnya adalah, bagaimana cara memulai usaha dari modal nol? Benar2 nol. Agak pusing pada awalnya karena aku nggak mau menggunakan lagi kartu kreditku dan nggak mau ambil hutang ke bank. Tiba2 aku ingat kalau kita sebenarnya punya yang namanya KOPERASI. Ya… koperasi. Satu institusi yang dulu aku ketawain gara2 identik dengan penukaran beras jatah PNS…hehehehehe…. Akhirnya aku ikutan koperasi simpan pinjam dekat rumah.

Masalah modal sudah teratasi. Bagaimana dengan SDM? Semula aku mau memulai dari usaha makanan (OK…karena aku doyan makan :D ), tapi tenagaku nantinya pasti terkuras habis karena aku belum mau melepaskan pekerjaanku sekarang. Akhirnya kuputuskan untuk membuat usaha konveksi kecil2an. Kenapa? Karena setelah meledaknya usaha garmen yang ditunjang dengan banyaknya pusat perbelanjaan, banyak penjahit yang akhirnya mengalami penurunan omzet secara drastis. Pengusaha garmen besar lebih suka menggunakan tenaga mesin yang notabene tidak membutuhkan gaji, tunjangan kesehatan, THR, uang hadir, jamsostek, dan lain2. Akhirnya para penjahit itu banyak yang banting stir ke profesi lain dan hanya menjahit saat ada order borongan di musim2 tertentu. Kasihan kan, kalau kapasitas mereka adalah menjahit baju tapi hanya digunakan untuk menjahit bendera setiap jelang tujuhbelasan :(

Akhirnya aku turun gunung. Aku yang biasanya weekend ke pusat perbelanjaan untuk menghabiskan jatah belanja, kali ini ke pusat perkulakan dengan perhitungan cermat demi terjaganya modal dan cash flow yang udah sangat mepet. Cari kostum paling nyaman yaitu celana bermuda, t-shirt, sandal jepit, no make up, lalu berangkat. Ternyata, dalam perjalanan dari rumah ke pusat perkulakan dengan naik angkot, banyak sekali ketimpangan dan ketidakadilan yang aku lihat. Di bidang transportasi aja, banyak angkot yang gulung tikar karena mudahnya kredit diberikan untuk pembelian motor. Saking dahsyatnya sistem yang diberi nama KREDIT, ada temanku yang tidak bisa beli motor secara cash karena tidak diperbolehkan pihak dealer. Harus kredit! Tau sendiri kan akibatnya, beli motor jauh lebih mudah, angkot2 jadi kosong, sementara sepeda motor jadi raja jalanan. Gitu kok ya pemerintah uring2ngan saat tingkat polusi udara di Surabaya tinggi karena banyaknya gas buang. Regulasinya dooooong…. Bikin supaya angkot tetap survive, udara Surabaya tetap bersih. Gimana caranya? Yo pikiren Rek!!! Kene mbayar pajak kok sampeyan jek ngongkon aku mikir :D

Tapi para pengguna sepeda motor (termasuk aku :D ) juga nggak bisa disalahkan karena mahalnya bensin dan sepinya penumpang membuat tarif angkutan umum jadi tinggi. Rugi bandar!!! Seharian itu aku naik angkot dan becak habis Rp. 19.000 dalam sehari (Lyn G 3.000, D 3.000, Q 3.000, M 3.000, Becak 4.000, DKM 3.000). Uang segitu cukup buat bensin satu minggu.

Selain petualanganku di weekend dari angkot ke angkot, ada lagi pengalaman yang bikin aku terenyuh dan merasa sedih. Pas libur coblosan, aku harus ngebenerin sepatu yang harus aku pakai di malam harinya. Semula aku akan ke pusat reparasi SnG yang ada di mall2. Tapi aku ingat kalau di Pandegiling ada banyak tukang sepatu yang mungkin bisa jadi solusi sepatu rusakku. Bukan rusak parah sih, hanya ujung solnya lepas. Akhirnya aku milih ke tukang sepatu pinggir jalan karena males parkir di mall :D .

Kalau di SnG, biaya membetulkan sepatu adalah 30 ribu rupiah. Sementara di tukang sepatu itu hanya…. 7.500 perak!!! Damn…. lagi2 mereka harus kalah dengan mesin dan kenyamanan. Memang, kalau di SnG aku hanya menunggu bentar dan hak sudah terpasang rapi, sementara kalau di pinggir jalan aku harus menunggu sekitar 20 menit dengan kondisi kegerahan. Tapi bukan itu masalahnya. Ongkosnya cuma 7.500 dan belum tentu dalam sehari dia mendapatkan pelanggan. Damn!!! Benar2 nggak adil!!!

C’mon prens…. wake up…. Di sekitar kita banyak saudara yang jadi sengsara karena monopoli. Atas nama pelayanan, atas nama kenyamanan, kita memilih fasilitas yang diberikan para pengusaha besar yang seringkali tidak berpihak pada ekonomi rakyat. Belum lagi krisis ekonomi global saat ini yang pemicu sebenarnya adalah utang. Mau dikupas sampai habis ya intinya adalah kita semua korban utang. Aku saranin deh, berdayakan koperasi simpan pinjam (asal duitnya nggak dibawa lari pengurusnya…hahahahaha), jangan budayakan CC. Punya CC boleh, tapi jangan buat gaya hidup deh…. Sederhananya gini, kalau nggak punya duit, ya jangan beli barang nggak penting dengan cara utang. Aku adalah salah satu korban penganut gaya hidup hedon yang sempat dipusingkan dengan adanya CC.

Rek… aku nulis ini bukan untuk menggurui, hanya ingin sharing. Tidak harus jadi pengusaha untuk memberdayakan ekonomi rakyat. Cukup dengan sedikit mengubah sudut pandang dan gaya hidup. Gunakan jasa orang di sekitar kita. Siapa tahu sebenarnya mereka bisa membantu menyelesaikan masalah kita dan kita dapat membantu mereka dengan imbalan atas tetes keringat mereka. Sebelum kita jadikan Indonesia negara yang merdeka secara finansial (bermimpi boleh kaaaaannn), jadikan dulu kita dan orang2 sekitar kita sebagai mahluk yang merdeka secara finansial dan tidak terjerat hutang yang mematikan. Siap memberdayakan ekonomi rakyat? Ayo… mulai dari diri kita, SEKARANG…..

Notes:

Mohon maaf kalau tulisan ini rada dangkal karena pendidikan saya  bukan berbasis ilmu ekonomi.

Mohon maaf kalau tulisan ini terkesan menggurui

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini, saya hanya ingin sharing… :)

Artikel terkait

  • No related posts

Artikel ini ditulis oleh Ning Dyah smadabaya92, klik link ini untuk mencari artikel lainnya di smadabaya92.org.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.



Mau mengikuti posting-posting terbaru di smadabaya92.org melalui email ?
Caranya gampang kok, masukkan email anda dan klik Subscribe.
oleh FeedBurner
WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in